Beranda > Pemandangan > Menyoal Gayus, Apa kata Dunia….

Menyoal Gayus, Apa kata Dunia….

Menyoal gayus banyak kata cacian, umpatan ditujukan  bagi dia. sebagai warga negara pasti kita geram melihat ulahnya,   pada televisi Dirjen pajak sedang gencar – gencarnya iklan :

Hari gini tidak bayar pajak apa kata dunia?

sekarang hanya angin lalu saja, gara – gara seorang Gayus kepercayaan masyarakat terhadap pajak telah luntur, bayangkan seorang Gayus Halomoan P Tambunan namanya melejit ketika komjen Susno Duadji menyebutkan bahwa Gayus mempunyai uang Rp 25 milyar direkeningnya plus uang asing senilai 60 milyar dan perhiasan senilai 14 milyar di brankas bank atas nama istrinya dan itu semua dicurigai sebagai harta Haram. kita tahu pajak yang biasa menyapa kita sehari – hari seperti
dipungut Pajak Negara
* Pajak Penghasilan
* Pajak Pertambahan Nilai
* Pajak Penjualan Barang Mewah
* Pajak Bumi dan Bangunan
* Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
* Pajak Bea Masuk dan Cukai
dipungut Pajak Daerah
* Pajak Kendaraan bermotor
* Pajak radio
* Pajak reklame
* Parkir berlangganan
* Pajak penginapan
* Pajak Makan / minum
Dari segi kelakuan oknum gayus, pasti kita tidak rela berapa uang kita yang ikut dibawa Gayus. kita susah payah kerja dipungut pajak, belanja dipungut pajak, naik motor dipungut pajak.. walah banyak lho yang kita sumbangkan, tapi segelintir orang telah tega mengkhianati amanat kita, bagaimana perasaan rakyat kecil jualan dipasar saja kena pajak retribusi, wah ini tidak adil rakyat kecil dituntut menanggung pajak untuk disalahgunakan oknum yang tidak bertanggung jawab

  1. 18 Desember 2010 pukul 20:24

    Pertamax dulu deh😀

    • 18 Desember 2010 pukul 20:25

      hihi pak mit gak malem mingguan nih? selamat pertamax nya

      • 19 Desember 2010 pukul 17:15

        Malem mingguan di rmh aja🙂 nonton tipi hehehe…

  2. 19 Desember 2010 pukul 06:14

    iklan yg ironis.disatu sisi kita disuruh jujur disisi lain pegawai pajaknya yg enggak jujur

    • 19 Desember 2010 pukul 10:21

      sesuatu yang bertolak belakang mas… ironi sekali

  3. 19 Desember 2010 pukul 06:41

    bebaskan rakyat dari PAjak…gantung mafia pajak, penggal tukang korup duit rakyat, potong tangan, kaki atau t*t*te biar Kwapok… *karo mbantingi piring

    • 19 Desember 2010 pukul 10:20

      hukum aturan negara arab nih, ada acara penggal hii sereem….

  4. damhar
    21 Desember 2010 pukul 17:09

    vote death sentence for koruptor !

    karena korupsi jauh lebih merusak ketimbang perkosaan, pembunuhan, perampokan

  5. 22 Desember 2010 pukul 07:51

    Kita harus tahu alur Pembayaran Pajak yang dipungut oleh Pusat adalah melalui bank Persepsi atau kantor Pos jadi celah untuk pegawai pajak mengutip uang pajak sangat tidak memungkinkan.

    Cara yang dipakai Gayus adalah membantu Wajib Pajak dalam menyelesaikan permasalahan Pajak yang temgah dan telah diperiksa oleh Pemeriksa Pajak jadi disini Wajib Pajak dan Gayus bekerjasama alias konkalikong agar Surat Ketetapan Pajak yang seharusnya dibayar sekian bisa diperkecil.

    Jadi untuk kalimat yang sampeyan buat :

    ” Dari segi pemungutan pajak tersebut diatas, pasti kita tidak rela berapa uang kita yang ikut dibawa Gayus. kita susah payah kerja dipungut pajak, belanja dipungut pajak, naik motor dipungut pajak.. ”

    Setuju tapi tidak tepat yang mungut pajak untuk pegawai kan perusahaan tempat dia bekerja dibayar dan dilaporkan oleh perusahaan (dibayar pastinya ke bank/pos, dilaporkan pastinya kekantor pajak), kalau untuk belanja dipungut pajak bedain mas kan ada yang ga kena misal belanja di pasar tradisional kalau di Mall pasti ada PPN tapi toh itu dikenakan dan dibebankan kepada masyarakat tapi langsung dibayarkan oleh pemungut pajak ke kas negara (bukan ke pegawai pajak).

    Saya sendiri pegawai pajak tapi Insya Allah kehidupan saya biasa dan ga samarata dengan gayus atau pandangan orang selama ini. jadi rasanya ketika baca artikel ini saya teriris dengan adanya kalimat yang terkesan uang pajak (langsung) dimakan oleh pegawai pajak.

    memang saya juga memakan uang pajak tapi dalam bentuk Gaji dan tunjangan dan yang memakan itu semua alias seluruh PNS di seluruh Indonesia.

    Saran saya kenali dulu seperti apa bentuk Pembayaran Pajak apakah langsung ke orang Pajak atau melalui pihak yang ditunjuk yaitu Bank Persepsi atau kantor Pos

    Berhati-hati agar kalimat yang dibuat tidak membuat rancu atau salah memahami orang lain dalam membacanya.

    Plus kita juga harus jujur terkadang ketika kita mengurus Pajak terutama PBB dalam hal ini menjual PBB kita juga ingin pajaknya diperkecil baik itu PPh Final dan BPHTB dan biasanya ini melibatkan Penjual, Pembeli, Orang desa/kecamatan/pemda, anak buah notaris atau oknum yang ngaku konsultan.

    Kalimat ini saya buat, akan mas alamin ketika sampeyan beli atau jual tanah dipastikan ada penawaran agar harga jual sesungguhnya akan dibikin kecil sesuai NJOP biasanya ini dari pihak …????? biar tahu sendiri sesungguhnya Mafia Pajak itu tidak hanya dilakukan oleh orang Pajak tapi semacam lingkaran setan yang melibatkan semua lapisan masyarakat.

    Salam blogger

    • 22 Desember 2010 pukul 09:26

      ooh ada pegawai pajak toh hehe maaf mas bila saya rancu menulisnya, oke tulisan ini saya mengambil dari sudut gayus mungkin ini otomatis menyinggung perasaan pegawai pajak yang lain dan akan saya ralat sedikit hehehe, masyarakat dibawah ( pasar) bayar pajak retribusi diambil oleh dinas pasar mereka mengganggap telah membayar pajak ke kantor pajak ( salah kaprah ) mereka nggak ngerti uang itu lari kemana? mereka membayar karena untuk membantu membangun negara, Gayus memang tidak langsung memungut pajak, tapi dengan kelakuannya, masyarakat awam mengecap semua pegawai pajak menjadi negatif. ( NILA SATU TITIK RUSAK SUSU SEBELANGA ) sekali lagi ini menyangkut OKNUM dan saya tidak menuduh semua pegawai pajak berwatak seperti gayus
      salam blogger

  6. 21 Januari 2011 pukul 07:05

    gayus tambunan emang gak ada matinya ya.
    semakin terkenal nih orang. dibuatin lagu lagi.😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: